Permukaan marmer mampu menghadirkan kesan mewah pada lobi perkantoran, hotel, maupun hunian pribadi. Namun, gesekan pasir, debu, dan aktivitas harian dapat membuat permukaannya kehilangan kilau. Karena itu, perawatan seperti kristalisasi marmer yang tepat membantu menjaga tampilan lantai tetap bagus sekaligus mengatasi lantai yang mulai kusam.

Mengapa Permukaan Marmer Bisa Kehilangan Kilau Alaminya?
Marmer mengandung kalsium karbonat yang sensitif terhadap zat asam. Tumpahan cuka, minuman bersoda, cairan sitrun, atau pembersih yang tidak sesuai dapat memicu etching pada permukaannya. Kondisi tersebut membuat bagian tertentu terlihat kusam dan kurang mampu memantulkan cahaya.
Gesekan pasir halus yang terbawa alas kaki juga dapat menghasilkan goresan mikro. Selain itu, penggunaan bahan pembersih yang tidak sesuai dapat meninggalkan residu pada permukaan marmer. Akibatnya, lantai terlihat semakin kusam ketika terkena cahaya.
Karena itu, pembersihan harian saja tidak selalu cukup untuk mengembalikan kilau marmer yang sudah mengalami goresan, etching, atau keausan permukaan. Tim perlu memilih metode perawatan berdasarkan kondisi lantai agar hasil pemulihan sesuai kebutuhan.
Mengenal Metode Kristalisasi Marmer, Ini yang Mungkin Belum Anda Ketahui
Kristalisasi merupakan metode perawatan permukaan yang menggabungkan bahan kimia khusus dengan proses mekanis menggunakan mesin lantai. Pada marmer yang sesuai, senyawa fluorosilikat dapat bereaksi dengan kalsium pada permukaan batu saat teknisi melakukan proses buffing. Reaksi tersebut membantu meningkatkan kekerasan permukaan sekaligus mengembalikan kilau marmer.


Kristalisasi juga berbeda dari polishing mekanis. Polishing menggunakan abrasive untuk menghaluskan permukaan dan mengatasi goresan atau etching. Sementara itu, kristalisasi lebih sering digunakan untuk memulihkan kilau dan merawat permukaan. Pada kondisi tertentu, teknisi dapat menggunakan kedua metode tersebut secara berurutan.
1. Persiapan dan Penghilangan Noda
Tim memeriksa kondisi marmer terlebih dahulu untuk mengetahui jenis noda, goresan, atau kerusakan permukaan. Jika lantai memiliki kerusakan fisik yang cukup berat, teknisi dapat melakukan proses abrasive menggunakan diamond pad sebelum masuk ke tahap kristalisasi.
2. Pembersihan Sisa Material
Setelah proses abrasive selesai, tim membersihkan sisa lumpur dan material dari permukaan lantai. Tahap ini memastikan area kerja berada dalam kondisi bersih sebelum teknisi mengaplikasikan bahan kristalisasi.
3. Penggunaan Bahan Kristalisasi
Teknisi mengaplikasikan bubuk atau cairan kristalisasi pada area kerja sesuai kebutuhan material dan kondisi marmer. Setelah itu, mesin floor polisher membantu menghasilkan panas dan gesekan yang diperlukan dalam proses reaksi pada permukaan batu.
4. Proses Buffing
Tim melakukan buffing secara merata menggunakan mesin dan pad yang sesuai. Proses ini membantu menghasilkan permukaan yang lebih mengilap sekaligus meratakan tampilan marmer.
5. Pembersihan Akhir
Setelah proses kristalisasi selesai, tim membersihkan sisa material dari lantai. Teknisi kemudian memeriksa kembali hasil akhir untuk memastikan permukaan memiliki tingkat kilau dan tampilan yang sesuai.
Hasil kristalisasi dapat memberikan tampilan mengilap pada marmer sekaligus meningkatkan kekerasan permukaan. Namun, teknisi tetap perlu menyesuaikan metode dan bahan dengan kondisi batu agar hasilnya merata.
Baca juga: 5 Manfaat Poles Marmer, Lantai Lebih Awet dan Tahan Lama!
Estimasi Biaya dan Perawatan Marmer
Biaya perawatan marmer bergantung pada luas area estimasinya Rp45.000 per meter, kondisi permukaan, tingkat kerusakan, serta metode pekerjaan yang diperlukan. Karena itu, survei lokasi membantu menentukan kebutuhan pengerjaan sebelum tim memberikan penawaran.
Untuk lantai yang masih layak direstorasi, perawatan permukaan dapat menjadi alternatif sebelum pemilik mempertimbangkan penggantian material. Tim juga dapat menentukan apakah lantai cukup menjalani kristalisasi atau membutuhkan polishing lebih dahulu. Perawatan harian juga membantu menjaga hasil pengerjaan. Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan meliputi:
- Bersihkan debu secara rutin: Gunakan kain atau mop mikrofiber untuk mengangkat debu dan pasir yang berpotensi menggores permukaan marmer.
- Gunakan pembersih dengan formula netral: Pilih air bersih dan produk yang sesuai untuk batu alam. Hindari cuka, lemon, atau bahan pembersih asam karena marmer sensitif terhadap paparan asam.
- Hindari bahan abrasif kasar: Sikat kawat dan bahan abrasif kasar dapat meninggalkan goresan pada permukaan marmer.
- Perhatikan kebutuhan sealing: Kristalisasi tidak menggantikan fungsi penetrating sealer. Kristalisasi berfokus pada kilau dan kondisi permukaan, sedangkan sealer membantu mengurangi penyerapan cairan ke dalam pori batu.
Poles Kristalisasi Marmer Bersama Yonisa Elok Sejahtera
Pemulihan marmer membutuhkan metode yang sesuai dengan kondisi permukaan. Karena itu, tim Yonisa Elok Sejahtera melakukan pemeriksaan area sebelum menentukan tahapan pekerjaan.
Layanan jasa poles marmer kami dapat mencakup pembersihan, polishing, dan kristalisasi sesuai kebutuhan lantai. Kami juga membantu memberikan rekomendasi perawatan agar hasil pengerjaan tetap terjaga setelah proses restorasi selesai.
Jika lantai marmer di rumah, hotel, kantor, atau properti Anda mulai kusam, hubungi Yonisa Elok Sejahtera untuk mendiskusikan kondisi lantai dan kebutuhan poles marmer Anda.
FAQ
Apa perbedaan poles marmer biasa dengan proses kristalisasi?
Polishing menggunakan abrasive untuk menghaluskan dan memulihkan permukaan, sedangkan kristalisasi memanfaatkan reaksi kimia dan proses mekanis untuk meningkatkan kilau serta kekerasan permukaan marmer.
Berapa lama daya tahan kilau kristalisasi marmer?
Daya tahan kilau bergantung pada tingkat lalu lintas, kondisi marmer, kualitas pengerjaan, dan perawatan harian. Area komersial dengan lalu lintas tinggi biasanya membutuhkan perawatan lebih sering daripada hunian.
Apakah proses kristalisasi marmer dapat menghilangkan baret atau goresan yang dalam?
Kristalisasi lebih cocok untuk pemulihan kilau dan perawatan permukaan. Goresan atau kerusakan yang dalam biasanya membutuhkan polishing atau proses abrasive terlebih dahulu sebelum tahap kristalisasi.
